
Kedatangan Douglas Luiz ke Juventus pada bursa transfer musim panas 2025 sempat disambut dengan penuh harapan. Namun, seiring berjalannya waktu, Douglas Luiz gagal bersinar di Juventus, meski datang dengan reputasi sebagai gelandang tangguh di Premier League bersama Aston Villa. Bukan karena kehilangan kemampuan teknis, namun sejumlah faktor non-teknis menjadi penyebab utama mengapa sang pemain belum menunjukkan performa terbaiknya di Turin.
Harapan Tinggi Jadi Tekanan: Awal Mula Douglas Luiz Gagal Bersinar di Juventus
Douglas Luiz direkrut dengan mahar mencapai €50 juta dalam sebuah kesepakatan kompleks yang melibatkan beberapa pemain Juventus seperti Samuel Iling-Junior dan Enzo Barrenechea yang dikirim ke arah sebaliknya. Juventus melihat Luiz sebagai figur sentral yang mampu mendongkrak kualitas lini tengah. Namun sejak awal, ekspektasi publik terhadap Luiz sudah sangat tinggi.
Begitu ia resmi diperkenalkan ke publik Turin, media Italia membanjiri pemberitaan dengan pujian dan prediksi bahwa ia akan menjadi “pengganti Pogba” yang tengah menghadapi skorsing. Tekanan besar itu berdampak langsung pada mentalitas Luiz. Alih-alih diberikan waktu untuk beradaptasi, Luiz langsung dituntut tampil konsisten di setiap pertandingan sejak pekan pertama Serie A.
Taktik Thiago Motta Tak Cocok, Penyebab Douglas Luiz Gagal Bersinar
Pelatih baru Juventus, Thiago Motta, dikenal memiliki gaya bermain dinamis dan berbasis penguasaan bola. Ia mempraktikkan sistem 4-2-3-1 yang sangat bergantung pada chemistry antarpemain lini tengah. Sayangnya, Luiz yang terbiasa bermain dalam sistem double pivot di Aston Villa terlihat kesulitan saat ditugaskan sebagai regista atau playmaker dalam sistem Motta.
Formasi 4-2-3-1 Thiago Motta di Juventus
Keterangan: Thiago Motta menggunakan skema 4-2-3-1 dengan dua gelandang bertahan (pivot), satu playmaker di tengah, dan winger yang aktif menusuk ke dalam.
Luiz seringkali terlalu statis dalam membagi bola dan tak secepat rekan-rekannya dalam membaca transisi permainan. Dalam beberapa laga awal, ia juga tercatat sering kehilangan bola di area berbahaya, yang berujung pada serangan balik lawan. Hal ini membuat Motta perlahan mulai mengurangi menit bermain Luiz dan lebih mengandalkan Manuel Locatelli dan Nicolo Fagioli sebagai starter utama.
Lini Tengah Padat: Douglas Luiz Sulit Bersaing di Juventus
Salah satu faktor terbesar yang menghambat Luiz untuk bersinar adalah ketatnya kompetisi di lini tengah Juventus. Setelah kembalinya Fagioli dari hukuman dan pulihnya Weston McKennie dari cedera, Motta memiliki lebih banyak pilihan untuk komposisi gelandang.
McKennie menawarkan dinamika dan tenaga, sedangkan Fagioli punya visi yang lebih sesuai dengan filosofi Thiago Motta. Locatelli yang lebih familiar dengan Serie A juga tetap menjadi pilihan utama. Dalam kondisi seperti ini, Luiz sering kali hanya menjadi opsi rotasi atau pemain cadangan dalam laga penting.
Douglas Luiz Gagal Beradaptasi Sosial dan Bahasa di Juventus
Bermain di Italia untuk pertama kalinya menjadi tantangan tersendiri bagi Douglas Luiz. Kendala bahasa menjadi salah satu hambatan utama dalam proses komunikasinya, baik di dalam maupun luar lapangan. Ia belum fasih berbahasa Italia, dan ini mempersulit komunikasi dengan pelatih serta rekan setim yang tak semuanya nyaman berbicara dalam bahasa Inggris.
Lebih jauh lagi, Luiz juga belum menemukan kenyamanan dalam kehidupan sosialnya di Turin. Dalam beberapa wawancara, ia mengakui bahwa ia merindukan kehidupan di Inggris dan belum merasa cocok dengan gaya hidup di Italia. Minimnya jaringan sosial serta adaptasi yang lambat terhadap budaya lokal turut memengaruhi mental dan performa di lapangan.
Minim Kepercayaan Diri, Douglas Luiz Belum Nyetel di Juventus
Douglas Luiz dikenal sebagai pemain yang sangat bergantung pada ritme pertandingan. Ketika ia merasa nyaman dan percaya diri, performanya bisa luar biasa. Namun di Juventus, kesempatan untuk tampil reguler tidak ia dapatkan, membuat kepercayaan dirinya perlahan menurun.
Setiap kali tampil, Luiz terlihat bermain ragu-ragu. Ia lebih sering mengambil opsi umpan aman ketimbang menginisiasi serangan. Data statistik menunjukkan bahwa jumlah umpan vertikalnya menurun drastis dibanding saat masih membela Aston Villa. Begitu pula dengan kontribusi defensifnya, di mana ia kalah duel udara dan tekel bersih lebih banyak dibandingkan rekan-rekannya.
Masa Depan Tak Pasti, Masa Sulit Douglas Luiz di Juventus
Satu hal lain yang mulai mengusik Douglas Luiz adalah ketidakpastian soal peran jangka panjangnya di Juventus. Manajemen Bianconeri saat ini tengah melakukan peremajaan skuad dan berfokus pada talenta muda Italia. Beberapa laporan dari media Turin menyebutkan bahwa Juventus mulai membuka pintu bagi kemungkinan menjual Luiz kembali ke Premier League jika ada tawaran menarik.
Situasi ini menciptakan ketidakstabilan psikologis bagi Luiz. Ia tak yakin apakah dirinya adalah bagian penting dalam proyek jangka panjang klub atau hanya alat barter dalam rencana keuangan manajemen. Ketidakjelasan ini semakin mempengaruhi motivasi dan performa sang gelandang.
Cedera Kecil Tapi Mengganggu: Kontribusi Douglas Luiz Tertahan
Meski tak mengalami cedera besar, Douglas Luiz beberapa kali mengalami cedera minor seperti masalah otot paha dan kelelahan otot. Hal ini menyebabkan ia melewatkan sesi latihan penting serta beberapa pertandingan pramusim dan awal kompetisi. Dampaknya, ia kesulitan menjaga ritme dan level kebugarannya.
Ketika akhirnya mendapatkan kesempatan bermain, Luiz terlihat belum 100% bugar. Ia sering tertinggal dalam duel, terlambat melakukan pressing, dan kesulitan menjaga intensitas sepanjang 90 menit. Situasi ini membuat kepercayaan pelatih semakin berkurang terhadapnya.
Masih Ada Harapan Meski Douglas Luiz Gagal Bersinar di Musim Pertama
Meski musim pertamanya bersama Juventus tergolong mengecewakan, bukan berarti karier Douglas Luiz di Turin telah berakhir. Banyak pemain asing yang membutuhkan satu musim penuh untuk benar-benar beradaptasi dengan sepak bola Italia. Jika Juventus memberinya waktu dan kepercayaan lebih, bukan tidak mungkin Luiz akan menunjukkan kualitas aslinya di musim berikutnya.
Thiago Motta sendiri dikenal sebagai pelatih yang sabar dalam membina pemain. Jika Luiz bersedia bekerja keras untuk memahami filosofi Motta, meningkatkan kemampuan bertahannya, serta mempercepat proses integrasi sosial dan bahasa, peluang untuk bangkit masih terbuka lebar.
Mengapa Douglas Luiz Gagal Bersinar di Juventus?
Kasus Douglas Luiz di Juventus menjadi contoh nyata bahwa adaptasi seorang pemain bukan hanya soal kemampuan teknis. Skill tinggi dan pengalaman Premier League tak cukup untuk menjamin kesuksesan di Serie A. Faktor-faktor seperti taktik, komunikasi, kultur klub, serta suasana di luar lapangan memainkan peran yang sangat besar.
Bukan karena Luiz kehilangan bakatnya, melainkan karena ia masih belum menemukan tempat yang pas dalam dinamika Juventus. Jika masalah non-teknis ini bisa diatasi, maka bukan tidak mungkin publik Turin akan kembali menyaksikan performa terbaik seorang Douglas Luiz yang pernah jadi pilar utama lini tengah Aston Villa.