Derby d’Italia kembali menghadirkan drama panas. Laga antara Juventus FC dan FC Internazionale Milano di ajang Serie A musim 2025/2026 berubah menjadi perdebatan besar setelah kartu merah yang diterima Pierre Kalulu.
Insiden itu memicu tanda tanya besar: mengapa wasit tidak melihat VAR sebelum mengeluarkan kartu merah untuk Kalulu?
Kontroversi Derby d’Italia ini bukan sekadar soal satu keputusan. Banyak pihak menilai momen tersebut memengaruhi arah pertandingan dan bahkan berpotensi berdampak pada persaingan gelar Serie A musim ini.
Kronologi Kartu Merah Pierre Kalulu di Derby d’Italia
Pertandingan yang digelar di Giuseppe Meazza berlangsung dengan tensi tinggi sejak menit awal. Derby d’Italia memang selalu menyajikan duel fisik dan tekanan emosional yang luar biasa.
Menjelang turun minum, Pierre Kalulu menerima kartu kuning kedua dari wasit Federico La Penna. Pelanggaran tersebut dinilai terjadi saat ia berduel dengan bek Inter, Alessandro Bastoni.
Masalahnya, tayangan ulang memperlihatkan kontak yang sangat minim. Bahkan sejumlah analis menyebut hampir tidak ada pelanggaran signifikan.
Karena itu kartu kuning kedua langsung berubah menjadi kartu merah. Juventus pun harus bermain dengan 10 pemain sepanjang babak kedua.
Keputusan tersebut langsung memicu protes keras dari para pemain dan staf Bianconeri. Namun wasit tetap pada pendiriannya dan tidak menuju monitor VAR.
Mengapa Wasit Tidak Melihat VAR?
Inilah inti dari kontroversi Derby d’Italia tersebut.
Banyak suporter bertanya, jika ada VAR, mengapa keputusan sepenting itu tidak ditinjau ulang?
Jawabannya terletak pada protokol resmi VAR yang berlaku dalam kompetisi di bawah regulasi IFAB dan FIFA.
VAR hanya dapat melakukan intervensi dalam empat situasi utama:
Gol dan potensi pelanggaran sebelum gol terjadi
Keputusan penalti
Kartu merah langsung
Kesalahan identitas pemain
Yang perlu digarisbawahi adalah VAR hanya bisa mengoreksi kartu merah langsung, bukan kartu merah akibat akumulasi dua kartu kuning.
Dalam kasus Pierre Kalulu, ia menerima kartu kuning kedua. Artinya, meskipun konsekuensinya adalah kartu merah, secara aturan keputusan tersebut tetap dikategorikan sebagai “kartu kuning”, bukan “kartu merah langsung”.
Karena itu, VAR tidak memiliki kewenangan untuk memanggil wasit melakukan review di monitor.
Secara teknis, wasit tidak melanggar prosedur. Ia memang tidak diwajibkan melihat VAR dalam situasi tersebut.
Dampak Besar bagi Juventus di Derby d’Italia
Bermain dengan 10 pemain dalam laga sebesar Derby d’Italia jelas bukan perkara kecil. Inter memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk meningkatkan tekanan di babak kedua.
Juventus harus merombak taktik dan lebih banyak bertahan. Intensitas serangan mereka menurun drastis.
Kontroversi Derby d’Italia ini kemudian dianggap sebagai titik balik pertandingan. Banyak pengamat menilai laga berubah total setelah kartu merah Kalulu.
Jika keputusan tersebut keliru, maka dampaknya bukan hanya pada satu momen, tetapi terhadap keseluruhan hasil pertandingan.
Dalam kompetisi seketat Serie A musim ini, satu hasil bisa menentukan posisi klasemen dan peluang juara.
Reaksi Keras dari Pihak Juventus
Manajemen Juventus tidak tinggal diam. Beberapa tokoh klub secara terbuka mengkritik keputusan tersebut.
Nama seperti Giorgio Chiellini disebut menyuarakan kekecewaan atas standar kepemimpinan wasit. Klub merasa keputusan tersebut terlalu ringan untuk menghasilkan kartu kuning kedua.
Mereka juga mempertanyakan sistem yang tidak memungkinkan review dalam situasi yang berdampak besar pada pertandingan.
Bagi Juventus, kontroversi Derby d’Italia ini menunjukkan adanya celah dalam sistem VAR yang perlu dievaluasi.
Perdebatan Aturan VAR: Perlukah Direvisi?
Kontroversi ini kembali membuka diskusi lama tentang batasan VAR.
Beberapa analis berpendapat bahwa aturan yang melarang review kartu kuning kedua sudah tidak relevan.
Argumennya sederhana: dampak kartu kuning kedua sama besarnya dengan kartu merah langsung. Pemain tetap diusir dan tim dirugikan secara jumlah.
Namun di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa memperluas kewenangan VAR akan memperlambat pertandingan. Jika semua kartu kuning bisa ditinjau ulang, laga bisa kehilangan ritme dan spontanitas.
Inilah dilema modern sepak bola: antara menjaga keadilan maksimal atau mempertahankan alur permainan.
Kontroversi Derby d’Italia menjadi contoh nyata betapa tipisnya garis antara keduanya.
Bagaimana Regulasi IFAB Mengatur Situasi Ini?
IFAB sebagai badan pembuat aturan sepak bola dunia menetapkan bahwa VAR bertugas mengoreksi “clear and obvious errors” dalam situasi tertentu saja.
Kartu kuning kedua tidak termasuk dalam kategori tersebut.
Alasannya adalah kartu kuning dianggap sebagai keputusan subjektif wasit yang bersifat interpretatif.
Dengan kata lain, meskipun publik menilai keputusan itu salah, secara hukum pertandingan keputusan tersebut tetap sah.
Reaksi Publik dan Media Italia
Media Italia langsung ramai membahas kontroversi Derby d’Italia ini.
Beberapa pakar wasit menyebut keputusan kartu kuning kedua terlalu keras. Ada pula yang membela wasit dengan menyatakan bahwa dalam laga seintens Derby d’Italia, toleransi pelanggaran memang lebih kecil.
Di media sosial, perdebatan berlangsung panas. Tagar terkait Derby d’Italia sempat menjadi trending di Italia.
Sebagian fans Inter menilai keputusan itu wajar. Sementara fans Juventus menganggap timnya dirugikan secara sistematis.
Dampak Jangka Panjang bagi Serie A
Kontroversi Derby d’Italia tidak hanya berhenti pada satu pertandingan.
Kasus ini bisa mendorong diskusi resmi di tingkat federasi. Jika tekanan publik cukup besar, bukan tidak mungkin FIGC atau bahkan IFAB mempertimbangkan revisi aturan VAR.
Serie A sendiri dalam beberapa musim terakhir terus berupaya meningkatkan transparansi penggunaan VAR. Beberapa laga bahkan sudah mulai menampilkan komunikasi wasit secara terbatas.
Kasus Pierre Kalulu bisa menjadi momentum untuk evaluasi lebih luas.
Kesimpulan: Aturan atau Keadilan?
Kontroversi Derby d’Italia terkait kartu merah Pierre Kalulu sebenarnya bukan soal teknologi gagal berfungsi.
VAR bekerja sesuai regulasi. Namun regulasinya sendiri yang menjadi sumber perdebatan.
Wasit tidak melihat VAR bukan karena mengabaikan teknologi, melainkan karena aturan memang tidak mengizinkan review kartu kuning kedua.
Pertanyaannya kini adalah: apakah aturan tersebut masih relevan dengan tuntutan sepak bola modern?
Jika dampaknya sebesar kartu merah langsung, banyak yang berpendapat bahwa kartu kuning kedua juga seharusnya bisa ditinjau.
Derby d’Italia sekali lagi membuktikan bahwa pertandingan ini bukan hanya soal rivalitas Juventus dan Inter, tetapi juga panggung besar bagi diskusi masa depan sepak bola Italia.




